Mengenal Budaya Pengelolaan Sampah Melalui Gerakan Masjos Di SMP Negeri 10 Yogyakarta

Yogyakarta, 11 September 2026 — Selama melaksanakan Praktik Kependidikan (PK) di SMP Negeri 10 Yogyakarta pada Juli–September 2026, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Pendidikan IPS) Universitas Negeri Yogyakarta tidak hanya melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga mengenal budaya sekolah yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan. Salah satu praktik yang menarik perhatian adalah pengelolaan sampah melalui kebiasaan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan wadah berulang, memilah sampah, serta edukasi melalui gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (MasJOS). Praktik tersebut berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Selama berada di lingkungan sekolah, mahasiswa PK mengikuti ketentuan dan kebiasaan yang telah diterapkan SMP Negeri 10 Yogyakarta. Di area kantin, penggunaan plastik sekali pakai diminimalkan. Makanan disajikan menggunakan kertas sebagai alas atau pembungkus, sedangkan minuman dapat disajikan menggunakan cangkir yang tersedia atau dibawa menggunakan botol minum sendiri. Sekolah juga menyediakan tempat sampah yang diberi keterangan berdasarkan jenisnya, antara lain sampah organik, plastik, serta kertas, kardus, dan kotak. Selain praktik sehari-hari tersebut, terdapat media edukasi MasJOS yang mengenalkan lima langkah pengelolaan sampah, yaitu memilah sampah sesuai jenis, membawa sampah anorganik ke bank sampah, mengolah sampah organik, menghabiskan makanan, dan menggunakan wadah berulang.

Kebiasaan tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa PK untuk melihat secara langsung bahwa pendidikan lingkungan dapat berlangsung melalui budaya sekolah, bukan hanya melalui materi pembelajaran. Bagi peserta didik, penyediaan fasilitas pemilahan sampah dan pembiasaan mengurangi barang sekali pakai dapat membantu membangun kesadaran untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Praktik penggunaan wadah berulang dan pengurangan plastik juga menunjukkan penerapan prinsip konsumsi yang lebih bertanggung jawab. Hal ini sejalan dengan gerakan MasJOS yang didorong Pemerintah Kota Yogyakarta untuk meningkatkan kesadaran warga sekolah dalam memilah dan mengolah sampah dari sumbernya. DLH Kota Yogyakarta menyebut sekolah sebagai salah satu lingkungan yang didorong untuk menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah.

Bagi mahasiswa Pendidikan IPS, praktik tersebut juga menjadi pengalaman untuk memahami bahwa persoalan lingkungan memiliki dimensi sosial karena membutuhkan kebiasaan, partisipasi, dan tanggung jawab bersama. Ke depan, budaya pengelolaan sampah di SMP Negeri 10 Yogyakarta diharapkan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan dengan melibatkan seluruh warga sekolah. Pembiasaan sederhana seperti memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan wadah berulang, dan menghabiskan makanan dapat menjadi bagian dari pembelajaran sosial yang mendorong peserta didik untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Penulis: Meiliani Aulia