Mahasiswa PPG IPS UNY Perkuat Pendidikan Khas Jogja Di SMP Negeri 12 Yogyakarta

Yogyakarta, 2 September 2026 — Upaya memperkuat karakter siswa melalui budaya lokal mulai diterapkan di SMP Negeri 12 Yogyakarta. Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) meluncurkan program “Nguri-uri Budaya Jogja, Nguatake Tata Krama lan Karakter Siswa” pada Rabu (2/9).

Program tersebut menjadi bagian dari Projek Kepemimpinan PPG yang mengusung pendekatan Pendidikan Khas Jogja (PKJ). Pelaksanaannya diarahkan untuk mengenalkan sekaligus membiasakan nilai-nilai budaya Yogyakarta dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Tidak sekadar mengenalkan budaya melalui materi, program ini dikemas dengan media edukasi yang dekat dengan keseharian siswa. Dua produk utama yang disiapkan adalah video edukasi singkat dan buku saku digital PKJ. Keduanya dirancang agar siswa tidak hanya mengetahui istilah dan nilai budaya Yogyakarta, tetapi juga memahami kapan dan bagaimana menerapkannya.

Video edukasi berdurasi sekitar lima menit menampilkan contoh penerapan sikap khas Yogyakarta, seperti ngapurancang, jempol, nyuwun sewu, nderek langkung, nyuwun pangapunten, maturnuwun, monggo, dan injih. Setiap sikap disajikan melalui situasi sederhana yang dekat dengan kehidupan warga sekolah sehingga lebih mudah dipahami dan dipraktikkan siswa. Sementara itu, buku saku digital disusun sebagai sumber belajar praktis yang dapat diakses melalui telepon seluler maupun laptop. Materinya menggunakan bahasa sederhana dan dilengkapi ilustrasi, contoh situasi, serta dialog singkat mengenai penerapan tata krama khas Yogyakarta di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Berangkat dari Tantangan Pelestarian Budaya Lokal

Gagasan program ini berangkat dari hasil observasi mahasiswa selama pelaksanaan PPL di SMP Negeri 12 Yogyakarta. Dalam proposal disebutkan masih terdapat siswa yang belum mengenal secara baik keistimewaan Yogyakarta, sejarah, budaya, serta nilai-nilai yang menjadi identitas daerah. Pada saat yang sama, siswa semakin banyak memperoleh informasi dan mengenal berbagai budaya melalui media digital. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara kekayaan budaya lokal Yogyakarta dengan tingkat pengenalan, pemahaman, dan penerapannya dalam kehidupan siswa. Karena itu, penguatan PKJ dipandang perlu dilakukan melalui media yang menarik, komunikatif, dan kontekstual. Pendekatan tersebut diharapkan membuat siswa lebih mudah menghubungkan nilai budaya dengan situasi nyata yang mereka temui setiap hari.

Mahasiswa dan Sekolah Berkolaborasi

Program ini merupakan bentuk kolaborasi mahasiswa PPG IPS UNY dengan SMP Negeri 12 Yogyakarta. Mahasiswa berperan sebagai perancang sekaligus pelaksana program, sementara pihak sekolah menjadi mitra dalam proses koordinasi, pemanfaatan, hingga keberlanjutan produk yang dihasilkan. Sasaran utama program adalah siswa SMP Negeri 12 Yogyakarta. Guru dan tenaga kependidikan juga menjadi bagian dari sasaran kegiatan karena media yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana penguatan nilai-nilai PKJ di lingkungan sekolah.

Projek ini diketuai Nurokhmah, dengan Yuyun Puspita Ningtyas sebagai sekretaris dan Dagmar Ayu Shafa sebagai bendahara. Tim pelaksana juga terbagi dalam divisi pengembangan video edukasi, pengembangan buku saku digital, humas dan pelaksanaan, serta dokumentasi.

Tak Berhenti pada Peluncuran

Peluncuran program pada 2 September 2026 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun SMP Negeri 12 Yogyakarta. Setelah peluncuran, penerapan program dijadwalkan mulai 7 September 2026 dan dilaksanakan secara berkelanjutan menyesuaikan kondisi, kebutuhan, serta kebijakan sekolah. Keberlanjutan menjadi salah satu perhatian utama dalam program ini. Video edukasi PKJ direncanakan dapat diputar di kelas sebelum pembelajaran pada jam pertama dimulai sebagai pengingat mengenai tata krama, unggah-ungguh, dan sikap khas Yogyakarta. Adapun buku saku digital diserahkan kepada sekolah agar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh siswa maupun guru. Melalui langkah tersebut, mahasiswa PPG IPS UNY berharap penguatan Pendidikan Khas Jogja tidak berhenti sebagai sebuah projek, tetapi berkembang menjadi pembiasaan dalam kehidupan sekolah. Budaya lokal pun diharapkan hadir bukan sekadar sebagai pengetahuan, melainkan sebagai nilai yang tercermin dalam perilaku siswa sehari-hari. Program ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui ruang pendidikan. Ketika tata krama, unggah-ungguh, dan sikap menghargai orang lain dibiasakan sejak di bangku sekolah, budaya lokal memiliki peluang lebih besar untuk tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Penulis: Anik W.